Nyanyianrindu’s Weblog

12-Agustus- 2008

Jawaban “Mengapa Bukan Aku?” dan Mengapa-mengapa Lainnya…

Filed under: Uncategorized — nyanyianrindu @ 2:54 pm

Ketika NASA mencari Astronot, maka beribu-ribu orang melamarnya. Ada 43.000 lebih surat lamaran melayang ke kotak surat NASA untuk bisa ikut penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Namun hanya beberapa orang saja yang benar-benar lolos dan ikut terbang bersama Chalenger di tahun 1986 itu.

Beberapa orang gagal di awal, beberapa orang sempat berlatih di program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center . Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara mereka yang bisa melewati ujian akhir ini? Hanya beberapa orang yang “berhasil” dan akhirnya justru hancur menjadi debu.

Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, maka 43.000 orang yang “GAGAL” menjadi astronot sangat ngiri, bahkan tidak sedikit yang membanting benda untuk

meluapkan emosinya 43.000 orang itu berkata “MENGAPA BUKAN AKU?” Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaan mereka yang mengeluhkan kegagalannya. Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Masihkah mereka bertanya “MENGAPA BUKAN AKU?”

Sahabat sukses, pernahkah anda melihat orang yang sangat makmur dan menurut anda hidupnya terpilih sebagai orang yang enak? Maukah anda menjadi dia? Saya akan bertanya? Apakah anda mau benar-benar menjadi TUKUL? Apakah Anda mau benar-benar menjadi BRAD PITT? Apakah anda mau benar-benar menjadi Tamara Blezenky?

Renungkan baik-baik…………

Mungkin anda akan menemukan hal yang tidak nyaman pada mereka, atau anda menemukan hal yang lebih baik pada diri anda. Selain menjadi mereka itu tidak mungkin, maka lebih baik menjadi diri sendiri dengan selalu memperbaiki kualitas hidup Anda. Lebih SUKSES, lebih Bahagia dan lebih Bermakna…..

Bersemangatlah menjadi diri sendiri! http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/01.gif

8-Agustus- 2008

Renungan dan Canda Tentang Usia Seorang Manusia

Filed under: Uncategorized — nyanyianrindu @ 4:45 pm

Rahasia umur manusia Intermezo & renungan buat hari ini……… ..

Di awal zaman,
Tuhan menciptakan seekor sapi.
Tuhan berkata kepada sang sapi
Hari ini kuciptakan kau Sebagai sapi
engkau harus pergi ke padang rumput.
Kau harus bekerja dibawah terik
matahari sepanjang hari.
Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun.
Sang Sapi keberatan
Kehidupanku akan sangat berat selama
50 tahun. Kiranya 20 tahun cukuplah
buatku. Kukembalikan kepadamu yang
30 tahun . Maka setujulah Tuhan.

Di hari kedua, Tuhan menciptakan monyet.
Hai monyet, hiburlah manusia.Aku berikan kau umur 20 tahun!
Sang monyet menjawab “What? Menghibur
mereka dan membuat mereka tertawa?
10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10
tahun padamu” Maka setujulah Tuhan.

Di hari ketiga, Tuhan menciptakan anjing.
Apa yang harus kau lakukan adalah
menjaga pintu rumah majikanmu.
Setiap orang mendekat kau harus
menggongongnya. Untuk itu kuberikan
hidupmu selama 20 tahun Sang anjing
menolak : “Menjaga pintu sepanjang hari
selama 20 tahun ? No way…! Kukembalikan 10 tahun padamu”.Maka setujulah
Tuhan.

Di hari keempat, Tuhan menciptakan manusia.
Sabda Tuhan: “Tugasmu adalah makan,
tidur, dan bersenang-senang.
Inilah kehidupan. Kau akan menikmatinya. Akan kuberikan engkau umur
sepanjang 25 tahun! Sang manusia keberatan,katanya “Menikmati kehidupan
selama
25 tahun?Itu terlalu pendek Tuhan.

Let’s make a deal.
Karena sapi mengembalikan 30 tahun usianya,lalu anjing mengembalikan 10
tahun,
dan monyet mengembalikan 10 tahun usianya padamu,berikanlah semuanya
itu
padaku.

Semua itu akan menambah masa hidupku menjadi 75 tahun.
Setuju ?” Maka setujulah Tuhan.

AKIBATNYA… ……… ……… ………

Pada 25 tahun pertama kehidupansebagai manusia dijalankan kita
makan,tidur dan
bersenang-senang

30 tahun berikutnya menjalankan
kehidupan layaknya seekor sapi
kita harus bekerja keras sepanjang hari
untuk menopang keluarga kita

10 tahun kemudian kita menghibur dan
membuat cucu kita tertawa dengan
berperan sebagai monyet yang menghibur

Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal
dirumah, duduk didepan pintu, dan
menggonggong kepada orang yang lewat
Uhuk, uhuk (batuk)… Eh, Ntong,
mo kemane lo? #@*?* ….

wakakakakakakak …..

“Forward dari salah seorang sahabat…”

Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu…

Filed under: Uncategorized — nyanyianrindu @ 4:11 pm

“Rumahku surgaku” Sebuah ungkapan yang tiada terhingga nilainya & tidak dapat diukur dengan parameter apapun. Sebuah idealisme yang menjadi impian semua keluarga. Tapi untuk mewujudkannya pada sebuah rumah tangga (keluarga) ternyata tidaklah mudah. Tidak seperti yang dibayangkan ketika awal perkenalan atau sebelum pernikahan. Butuh proses, butuh kesabaran, butuh perjuangan, bahkan pengorbanan juga ilmu!
Saat ini, persoalan dalam keluarga membuat banyak pasangan suami istri dalam masyarakat kita menjadi gamang. Baik yang datang dari dalam maupun dari luar.

Wajar, karena itulah hakikat hidup. Bukan hidup namanya jika tanpa masalah. Justru masalah yang membuat manusia bisa merasakan kesejatian hidup, menjadikan hidup lebih berwarna dan tidak polos seperti kertas putih yang membosankan. Namun jangan sampai masalah-masalah itu mengendalikan diri kita hingga kita kehilangan hakikat hidup.

Lihatlah sepanjang tahun ini, begitu banyak pasangan yang mengajukan perceraian ke pengadilan agama dengan berbagai macam alasan. Memang yang lebih banyak terangkat adalah kisah rumah tangga para selebritis yang tak henti menghiasi layar kaca tentang rusaknya hubungan rumah tangga mereka. Tapi sesungguhnya itu hanya puncak sebuah gunung es. Karena masyarakat awam pun tak sedikit yang rumah tangganya bermasalah, bahkan mereka yang mendapat sebutan aktivis dakwah.
Begitu banyak buku-buku pernikahan yang beredar di pasaran, bahkan sebagian menjadi best seller. Tak hanya buku-buku non fiksi, bahkan para fiksionis pun lebih senang mengangkat tema-tema merah jambu karena lebih disukai pasar. Isinya kebanyakan bersifat provokatif kepada orang-orang yang belum menikah agar segera menikah. Namun sayangnya hampir semua buku-buku itu isinya terlalu melangit.
Maksudnya lebih banyak menceritakan pernikahan (kehidupan rumah tangga) pada satu sisi yang indah dan menyenangkan. Sementara sisi “gelap” pernikahan jarang sekali yang mengangkat. Tentang kehidupan setelah pernikahan, tentang biaya-biaya berumah tangga, dan hal-hal lain yang tentu tidak sepele dalam rumah tangga.
Isitrahatlah sejenak dari bermimpi tentang pernikahan. Jika mimpi itu hanya berisi bagaimana mengatasi rasa gugup saat akad nikah. Atau tumpukan kado dan amplop warna-warni menghiasi ‘bed of roses’. Atau kalau hanya mengharap salam indah dan atau jawaban salam dari kekasih. Apalagi membayangi bisa menatap, berbicara dan menghabiskan waktu bersama belahan hati tercinta.
Pernikahan tidak cuma sampai di situ, sobat. Ada banyak pekerjaan dan tugas yang menanti. Bukan sekedar merapihkan rumah kembali dari sampah-sampah pesta pernikahan, karena itu mungkin sudah dikerjakan oleh panitia. Bukan menata letak perabotan rumah tangga, bukan juga kembali ke kantor atau beraktifitas rutin karena masa cuti habis.
Tapi ada hal yang lebih penting, menyadari sepenuhnya hakikat dan makna pernikahan. Bahwa pernikahan bukan seperti ‘rumah kost’ atau ‘hotel’. Di mana penghuninya datang dan pergi tanpa jelas kapan kembali. Tapi lebih dari itu, pernikahan merupakan tempat dua jiwa yang menyelaraskan warna-warni dalam diri dua insan untuk menciptakan warna yang satu: warna keluarga.
Di tengah masyarakat yang kian sakit memaknai pernikahan, semoga kita tetap memiliki sudut pandang terbaik tentangnya. Betapa banyak orang yang menikah secara lahir, tapi tidak secara batin dan pikiran. Tidak sedikit yang terjebak mempersepsikan pernikahan sebatas cerita roman picisan dan aktifitas fisik. Hingga wajar jika banyak remaja yang belum menikah saat mendengar kata menikah adalah kesenangan dan kenikmatan. Hal itu ditunjang oleh buku-buku pernikahan yang isinya ngomporin. Sementara sesungguhnya yang harus dilakoni adalah tanggung jawab dan pengorbanan.
Memang pernikahan berarti memperoleh pendamping hidup, pelengkap sayap kita yang hanya sebelah…

Memang pernikahan berarti memperoleh pendamping hidup, pelengkap sayap kita yang hanya sebelah. Tempat untuk berbagi dan mencurahkan seluruh jiwa. Tapi jangan lupa bahwa siapapun pasangan hidup kita, ia adalah manusia biasa. Seseorang yang alur dan warna hidup sebelumnya berbeda dengan kita. Seberapa jauh sekalipun kita merasa mengenalnya, tetapakan banyak ‘kejutan’ yang tak pernah kita duga sebelumnya. Upaya adaptasi dan komunikasi bakal jadi ujian yang cuma bisa dihadapi dengan senjata kesabaran.
Pasangan kita, yang kita cintai adalah manusia biasa. Dan ciri khas makhluk bernama manusia adalah memiliki kekurangan dan kelemahan diri. Memahami diri sendiri sebagai manusia sama pentingnya dengan memahami orang lain sebagai manusia. Pemahaman ini penting untuk dijaga, karena cepat atau lambat kita akan menemukan kekurangan atau kebiasaan buruk pasangan kita.
Oleh karena itu, bagi yang belum menikah, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu dengan memilih pasangan hidup saja. Apalagi parameternya tak jauh dari penampilan, fisik, encernya otak, anak orang kaya, pekerjaan mapan, penghasilan besar, berkepribadian (mobil pribadi, rumah pribidi), berwibawa (wi…bawa mobil, wi…bawa handphone, wi…bawa laptop), dan sebagainya. Tapi, pernahkah kita berpikir untuk membantu seseorang yang ingin mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik hari demi hari bersama diri kita?
Lebih dari itu, pernikahan dalam konteks dakwah merupakan tangga selanjutnya dari perjalanan panjang dakwah membangun peradaban ideal dan tegaknya kalimat Allah. Namun tujuan mulia pernikahan akan menjadi sulit direalisasikan jika tidak memahami bahwa pernikahan dihuni oleh dua jiwa. Setiap jiwa punya warna tersendiri, dan pernikahan adalah penyelarasan warna-warna itu. Karenanya merupakan sebuah tugas untuk bersama-sama mengenali warna dan karakter pasangan kita. Belajar untuk memahami apa saja yang ada dalam dirinya. Menerima dan menikmati kelebihan yang dianugerahkan padanya. Pun membantu membuang karat-karat yang mengotori jiwa dan pikirannya.
Menikah berarti mengerjakan sebuah proyek besar dengan misi yang sangat agung: melahirkan generasi yang bakal meneruskan perjuangan. Pernahkan terpikir betapa tidak mudahnya misi itu? Berawal dari keribetan kehamilan, perjuangan hidup mati saat melahirkan, sampai kurang tidur menjaga si kecil? Ketika bertambah usia, kadang ia lucu menggemaskan tapi tak jarang membuat kesal. Dan seterusnya hingga ia beranjak dewasa, belajar berargumentasi atau mempertentangkan idealisme yang orangtuanya tanamkan. Sungguh, tantangan yang sulit dibayangkan jika belum mengalaminya sendiri…
Menikah berarti berubahnya status sebagai individu menjadi sosial(keluarga). Keluarga merupakan lingkungan awal membangun peradaban. Dan tentu sulit membangun peradaban jika kondisi ‘dalam negeri’ masih tidak beres. Maka butuh keterampilan untuk memanajemen rumah tangga, menjaga kesehatan rumah dan penghuninya, mengatur keuangan, memenuhi kebutuhan gizi, menata rumah, dan masih banyak lagi keterampilan yang mungkin tak pernah terpikirkan…
Ini bukan cerita tentang sisi “gelap” pernikahan (wong saya sendiri belum nikah, tapi do’akan saja tahun ini saya bisa segera menyempurnakan separuh dien saya). Tapi seperti briefing singkat yang menyemangati para petualang yang bakal memasuki hutan belantara yang masih perawan. Yang berhasil, bukan mereka yang hanya bermodal semangat. Tapi mereka yang punya bekal ilmu, siap mental dan tawakkal kepadaNYA. Karena pernikahan bukanlah sebuah keriaan sesaat, namun ia adalah nafas panjang dan kekuatan yang terhimpun untuk menapaki sebuah jalan panjang dengan segala tribulasinya.

Pernikahan adalah penyatuan dua jiwa yang kokoh untuk menghapuskan pemisahan. Kesatuan agung yang menggabungkan kesatuan-kesatuan yang terpisah dalam dua ruh. Ia adalah permulaan lagu kehidupan dan tindakan pertama dalam drama manusia ideal. Di sinilah permulaan vibrasi magis itu yang membawa para pencinta yang berasal dari dua dunia akhirnya menjadi satu dalam satu ikatan agung bernama PERNIKAHAN.
Jadi, bekalilah dirimu sebelum Anda mengambil keputusan besar itu.

Gundah…Saat Masa Itu Datang Menjelang

Filed under: Uncategorized — nyanyianrindu @ 3:30 pm

Teringat sebuah pesan bijak dari seorang sahabat, ” Kaulah arsitek hidupmu, kau boleh merencanakan segalanya… tapi lagi2 ALLAH-lah sang penentu pemenang tendernya.”…
“Kun fayakun..jadi, maka terjadilah”.
Siapa yang bisa melawan kehendaknya? Tak seorang makhluk-pun di atas bumi ciptaan-Nya ini yang bisa.

Tapi satu yang pasti, “DIA TAK PERNAH SALAH” kan? Apapun yg Ia berikan, pasti itulah yang terbaik bagi kita. Dan boleh jadi, apa yang ia berikan tidak sesuai dengan keinginan kita. Apa yang kita inginkan, belum tentu semuanya bisa kita dapat…
Kecewa? Pasti…

Tapi kekecewaan yang kita alami mesti hanya sementara, karena sebenarnya Ia telah menyiapkan sebuah “kejutan” kecil untuk kita, di balik kekecewaan itu. Boleh jadi, hari ini kita menganggapnya sebagai kekecewaan. Esok hari kita menganggapnya sebagai sebuah pembelajaran. Dan di masa depan kita malah menganggap kekecewaan kita dulu sebagai sebuah rahmat, karena dengan kegagalan yang pernah kita alami saat itu, kita bisa belajar dan sampai pada kesuk.
“Laa khaufun, walaa hum yakzanuun”.. Janganlah kamu takut,dan jangan pula kamu bersedih hati. Karena surga ALLAH telah menantimu kelak. Itu janji ALLAH bagi hamba-Nya yang lulus menghadapi ujian-Nya, dan menyikapinya dengan ikhlas.

Walahu’alam bisshawab.

“Ditulis oleh Wachid Kurniawan sesaat setelah badai menghempasnya”

Wanita Bagi Pemimpin Dunia…

Filed under: Living Learning — nyanyianrindu @ 3:08 pm

Wanita…

Bukan dari tulang ubun2 mereka dicipta, karena berbahaya menjadikannya disanjung dan dipuja. Bukan pula dari tulang kaki, karena nista menjadikannya terinjak dan terhina

Tapi dari rusuk kiri lelaki mereka dicipta, dekat ke tangan untuk dilindungi, dan dekat pula ke hati untuk dicintai”.

Wanita, apa yang membuat mereka begitu istimewa, sehingga ALLOH-pun meletakkan surga di kaki seorang wanita? Apa kelebihan dari sesosok makhluk yg diciptakan Alloh begitu penuh kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang, sehingga Rasulullah SAW menyatakan bahwa seindah-indah perhiasan dunia adalah wanita (istri yang shalihah). Apa luar biasa-nya kaum hawa ini, sehingga setiap tanggap 2 Desember diperingati sebagai “Hari Ibu”, sementara sepanjang sejarah tidak pernah ada “Hari Ayah atau Hari Bapak”?

Jika memang demikian istimewanya mereka, mengapa dalam Surat An-Nisa ayat 34 disebutkan Ar-Rijalu qawwamuna ‘ala an-Nisaa’, bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita? Lantas mengapa ketika ada seorang wanita bertanya kepada Rasulullah tentang hak-hak suami terhadap istrinya, Rasul menjawab, “Diantara hak suami atas istrinya adalah : Jika saja kaki suamimu terluka kemudian luka itu bernanah dan mengeluarkan bau busuk, kemudian engkau membasuhnya dengan wajahmu, maka engkau belum dianggap memenuhi semua hak suamimu. Dan kalau saja Allah membolehkanku untuk memerintahkan manusia sujud kepada manusia lain, sungguh aku perintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya”.

Semua pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelitik isi kepalaku. Rasa penasaran membuatku terus mencari-cari jawaban, namun sepertinya belum ada jawaban yang bisa memuaskan rasa penasaranku. Hingga akhirnya malam itu, kubaca sebuah tulisan pendek yang menghiasi sebuah notebook souvenir pernikahan salah satu sahabat terbaikku. Entah mengapa, begitu pendek memang, tapi kalimat pendek yang merupakan kutipan dari artikel ustadz Anis Matta ini seolah mampu memberangus semua pertanyaan yang berkutat di pikiranku. Dalam artikel tersebut, ustadz Anis Matta menyebutkan demikian :

“Di balik tangguh dan agungnya seorang pemimpin (lelaki-red), disana pasti ada wanita yang tangguh dan agung pula. Wanita itu bisa salah satu diantara dua, atau mungkin juga kedua-duanya. Dua wanita tersebut adalah sang Ibu dan Istri lelaki tadi”

Ternyata pikiranku terlalu “cetek”. Bahwa sebenarnya bukanlah sebuah ketidak-adilan bagi kaum adam, jika lantas ALLOH swt dan Rasulullah memberikan penghargaan yang begitu tinggi kepada seorang wanita, dengan menjadikan mereka sebagai sebaik-baik perhiasan dunia, dan meletakkan surga ada di bawah telapak kakinya..

Istri, seorang wanita yang selalu berusaha setia pada suaminya, Dia yang membuat suami merasa dihargai dan dicintai. Dengan tatap bangganya. Dengan ucapan terima kasih tulusnya saat menerima uang gaji sang suami yang tak seberapa. Dengan kesabarannya mengandung, melahirkan dan memegang komando pembinaan anak hasil buah cinta mereka berdua, yang senantiasa berusaha pulang kantor lebih awal dari suaminya. Yang memilihkan dan menyiapkan segala keperluan sang suami di tengah-tengah begitu banyak urusannya. Yang menemani menyiapkan bahan kuliah hingga larut malam, dan masih begitu banyak lagi pengorbanannya.

Ibu…tak usah kita sangsikan betapa berartinya ia bagi hidup kita. Di rahimnya-lah selama 9 bulan kita tinggal, sembari menanti Alloh memberikan gilirannya pada kita untuk melihat indahnya dunia. Ia yang rela menunda surga, demi bisa merawat, mendidik dan membesarkan kita dengan semua sentuhan lembut, kasih sayang, kata-kata syahdu, dan senyumannya. Ia, yang telah begitu banyak berjasa dan berkorban bagi kita, tapi mungkin tak pernah sesaatpun kita ucapkan “TERIMA KASIH” padanya,.. Oh ibu, aku mencintaimu…

Pantaslah kiranya Sayyid Quthub dalam kitab tafsirnya Fi Zhilail Al-Quran (Pustaka Al-Kautsar, 1996) mengatakan, “Laki-laki dan perempuan, keduanya adalah makhluk ciptaan Allah… tidak pernah diciptakan dengan maksud ditindas oleh makhluk ciptaan lainnya. Masing-masing telah diciptakan dengan hak dan kewajibannya masing-masing, satu memiliki kelebihan atas yang lain, dan begitu pula sebaliknya. Seorang wanita shalihah akan makin melengkapi hidup lelaki salih, dan seorang lelaki salih merupakan kebutuhan dari seorang wanita shalihah”. Subhanallah…betapa Alloh swt telah mengatur sedemikian indahnya kedudukan antara seorang lelaki dan wanita.

Wallahu’alam bisshawab…

“Ditulis oleh Wachid Kurniawan, utk ibundanya yang akan menjelang usia ke-44 nya…”

23-Juni- 2008

Karena Cinta, Harus Bisa Dipertanggungjawabkan…

Filed under: Uncategorized — nyanyianrindu @ 5:34 am

Bila Cinta Telah Melekat, Tahi Kucing-pun Serasa Coklat

Demikian dikatakan sang penyanyi legendaris Gombloh dalam salah satu lagunya. Yah, CINTA, lima huruf yang membuat segalanya menjadi begitu bermakna. Rasa indah yang pasti pernah dirasakan siapa saja, tidak terkecuali bagi mereka yang menyatakan hatinya dingin bagai Iceman -pun, pati pernah merasakannya.

“Aku Mencintaimu”, sebuah kata yang barangkali begitu mudahnya diobral oleh mereka yang hatinya tengah tertawan oleh indah dan memabukannya makhluk bernama CINTA, utamanya cinta kepada wanita. Tapi kebanyakan diantara kita tidak sadar, betapa sebenarnya sangat berat konsekuensi yang harus ditanggung saat kita telah memutuskan utk MENCINTAI seseorang…

Karena “aku mencintaimu”, itu adalah ungkapan lain dari “Aku bersedia memberimu sesuatu,,, Aku mau memperhatikan dan mengerti dirimu dalam semua situasimu,,, Aku siap berusaha lebih keras agar bisa memenuhi kebutuhanmu dan memberimu semua fasilitas, sehingga kau bisa memaksimalkan potensimu,,, Aku ingin merawat dan melindungimu dengan segenap kasih sayangku bahkan jika perlu dengan Nyawaku…

Karena makna MENCINTAI yang sebenarnya adalah pekerjaan berat yang dibingkai dalam sebuah ikatan tali pernikahan, yang diiringi proses saling memahami dan mengerti, saling memperhatikan, menyayangi, bersabar, merawat dan melindungi. Pekerjaan yang yang taruhannya adl KEPERCAYAAN orang yang kita cintai, pekerjaan yang membawa konsekuensi kesiapan utk BERKORBAN, pekerjaan berat yang diniatkan untuk ditunaikan hingga Izrail menjemput salah satu atau keduanya, pekerjaan berat yang hanya dilakukan oleh mereka yang punya komitmen kuat, niat yang tulus, dan tujuan yang mulia.

Karena lelaki atau wanita yang kau nikahi bukanlah makhluk sempurna yang tercipta tanpa cacat atau kekurangan, maka bersiaplah untuk mencintainya dengan segenap kekurangan dan kelebihannya., dan jadilah pelengkap atas semua kekurangannya.

Karena ia juga bukan makhluk yang diciptakan tanpa nafsu, sehingga jadilah air penyejuk baginya, saat nafsunya tengah membakar hatinya.

Karena hatinya tidak tercipta dari besi atau baja yang begitu tangguh dan kokoh, sehingga jadilah sahabat setia yang selalu siap mendengarkan semua keluh dan kesahnya.

Karena ia adalah makhluk yang berbeda dari dirimu…keluarga, pendidikan, pergaulan dan lingkungan telah membentuk pribadi dan karakternya, maka jadilah siswa yang mau belajar untuk memahami dan mengerti setiap detal pribadi dan kebiasaannya.

Karena ia juga bukan malaikat yang bisa selalu taat pada perintah Tuhannya, sehingga ingatkanlah ia tatkala ia khilaf dan terlupa serta melalaikan perintah Tuhannya.

Ia juga punya hati yang begitu kecil, tak sebanding dengan dirimu yang mungkin di matanya begitu sempurna, maka jagalah hatinya yang kecil tadi dari api cemburu, dengan menjaga kehormatan, pandangan serta akhlakmu.

Ia juga bukan makhluk yang tercipta dari batu begitu saja, ia juga punya keluarga seperti halnya dirimu, maka bersiaplah untuk mencintai dan menerima kelurganya seperti halnya kau mencintai keluargamu sendiri.

Karena itu, berhati-hatilah ketika Anda akan mengucapkan, “Aku mencintaimu…” karena itu berarti, Anda juga harus siap dengan semua risikonya.

Wallahu’alam

11-Juni- 2008

Nguri-uri Kabudayan Jawi

Filed under: Javanese Wisdom — nyanyianrindu @ 7:44 am

Bukan bermaksud ingin mempercayai ramalan, karena saya sendiri faham bahwa itu adalah hal terlarang dalam agama, dan bisa menggugurkan syahadat kita. Post yang saya tulis ini hanya ingin mengajak kita semua sejenak merenung tentang keadaan dunia hari ini, yang berpuluh tahun yang lalu telah coba untuk digambarkan Ronggowrsito dalam Jongko Joyo Boyonya berikut :


Iki sing dadi tandane zaman kolobendu (Ini adalah yang menjadi tanda dunia memasuki zaman kehancuran/hari akhir) :
1. Lindu ping pitu sedino (Gempa bumi 7 x sehari)
2. Lemah bengkah (Tanah pecah merekah)
3. Manungsa pating galuruh, akeh kang nandang lara (Manusia berguguran, banyak yang ditimpa sakit)
4. Pagebluk rupo-rupo (Bencana bermacam-macam)
5. Mung setitik sing mari akeh-akehe pada mati (Hanya sedikit yang sembuh, kebanyakan meninggal)

Zaman kalabendu iku wiwit yen, (Zaman ini ditandai dengan)
1. Wis ana kreto mlaku tampo jaran (Sudah ada kereta yang berjalan tanpa kuda)
2. Tanah jawa kalungan wesi (Tanah Jawa dikelilingi besi (mungkin maksudnya Rel kereta kali ya :Red))
3. Prau mlaku ing nduwur awang-awang (Perahu berjalan di atas awan melayang layang)
4. Kali ilang kedunge (Sungai kehilangan danaunya)
5. Pasar ilang kumandange (Pasar kehilangan keramaianya)
6. Wong nemoni wolak-walik ing zaman (Manusia menemukan jaman yang terbolak-balik)
7. Jaran doyan sambel (Kuda doyan makan sambal)
8. Wong wadon menganggo lanang (Orang perempuan mempergunakan busana laki-laki)

Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya, nanging zaman iku sabenere zaman ajur lan bubrahing donya. (Zaman kalabendu itu seperti jaman yang menyenangkan, jaman kenikmatan dunia, tetapi jaman itu sebenarnya jaman kehancuran dan berantakannya dunia)
1. Mulane akeh bapak lali anak (Oleh sebab itu banyak bapak lupa sama anaknya)
2. Akeh anak wani ngalawan ibu lan nantang bapak (Banyak anak yang berani melawan ibu dan menantang bapaknya)
3. Sedulur pada cidro cinidro (Sesama saudara saling berkelahi)
4. Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang kaprawirane (Perempuan kehilangan rasa malunya, Laki-laki kehilangan rasa kejantanannya)
5. Akeh wong lanang ora duwe bojo (Banyak Laki laki tidak punya istri)
6. Akeh wong wadon ora setia karo bojone (Banyak perempuan yang tidak setia pada suaminya)
7. Akeh ibu pada ngedol anake (Banyak ibu yang menjual anaknya)
8. Akeh wong wadon ngedol awakke (Banyak perempuan yang menjual dirinya)
9. Akeh wong ijol bojo (Banyak orang yang tukar menukar pasangan)
10. Akeh udan salah mongso (Sering terjadi hujan salah musim)
11. Akeh prawan tuwo (Banyak Perawan Tua)
12. Akeh rondo ngalairake anak (Banyak janda yang melahirkan anak)
13. Akeh jabang bayi nggoleki bapake (Banyak bayi yang lahir tanpa bapak)
14. Wong wodan ngalamar wong lanang (Perempuan melamar laki-laki)
15. Wong lanang ngasorake, drajate dewe (Laki-laki merendahkan derajatnya sendiri)
16. Akeh bocah kowar (Banyak anak lahir di luar nikah)
17. Rondo murah regane (Janda murah harganya)
18. Rondo ajine mung sak sen loro (Janda nilainya hanya satu sen untuk dua)
19. Prawan rong sen loro (Perawan nilainya dua sen untuk dua)
20. Dudo pincang payu sangang wong (Duda berharga 9 orang)

Zamane zaman edan ( Zamannya Zaman Gila/Sinting)
1. Wong wadon nunggang jaran (Perempuan menunggang Kuda)
2. Wong lanang lungguh plengki (Laki-laki berpangku tangan)
3. Wong bener tenger-tenger (Orang yang benar cuma bisa bengong)
4. Wong salah bungah-bungah (Orang yang melakukan kesalahan berpesta pora)
5. Wong apik ditapik-tampik (Orang Baik disingkirkan)
6. Wong bejat munggah pangkat (Orang Yang kelakuannya bejat malah naik pangkat)
7. Akeh ndandhang diunekake kuntul (Banyak komentar yang tidak ada isinya)
8. Wong salah dianggap bener (Orang salah dianggap benar)
9. Wong lugu kebelenggu (Orang lugu dibelenggu)
10. Wong mulyo dikunjara (Orang mulia dipenjara)
11. Sing culika mulya, sing jujur kojur (Yang salah mulia, yang jujur hancur)
12. Para laku dagang akeh sing keplanggrang (Pedagang banyak yang menyeleweng)
13. Wong main akeh sing ndadi (Orang berjudi semakin menjadi)
14. Linak lijo linggo lica, lali anak lali bojo, lali tangga lali konco (Lupa anak dan pasangan, lupa tetangga dan teman)
15. Duwit lan kringet mung dadi wolak-walik kertu (Uang dan keringat hanya untuk berjudi)
16. Kertu gede dibukake, ngguyu pating cekakak (Kartu besar dibuka, tertawa terbahak-bahak)
17. Ning mulih main kantonge kempes (Tapi waktu pulang main kantongnya kosong)
18. Krugu bojo lan anak nangis ora di rewes (Denger anak istri nangis tidak digubris)

Abote koyo ngopo sa bisa-bisane aja nganti wong kelut,keliring zaman kalabendu iku.
(Berat seperti apapun jangan sampai kalut (lebih tepatnya) Seberat apapun jangan sampai ikut larut dalam warna-warni zaman kalabendu)

Amargo zaman iku bakal sirno lan gantine joiku zaman ratu adil, zaman kamulyan. Mula sing tatag, sing tabah, sing kukuh, jo kepranan ombyak ing zaman Entenana zamanne kamulyan zamaning ratu adil
(Sebab jaman itu bakal sirna dan diganti dengan jaman Ratu adil, jaman kemuliaan, karena itu jadilah manusia yang tegar, yang tabah, yang kokoh, Jangan melakukan hal bodoh. Tunggulah jaman kemuliaan jamannya Ratu adil)

Iki jamane jaman edan, yen ra edan ra keduman. Nanging sak bejo-bejone wong edan isih bej wong sing eling lan waspdo. (jaman ini jaman yang gila, bila kita tidak ikut gila kita tidak akan kebagian. Tapi seberuntung2-nya orang gila, masih beruntung orang yang ingat hakekat dirinya dan waspada).

Belajar Dari Sisi Yang Lain

Filed under: Living Learning — nyanyianrindu @ 7:13 am

“Jaman nopo-nopo awis ngaten sing susah-kan tiyang kutha nika
Nek tiyang ndusun ngaten boten!
Amargi tiyang ndusun niku pepinginane mboten neko-neko
Pokok ningali pari-ne ten sabin pun ndingkluk ngaten, atine pun bingah sangeet mas!”….
(“Masa dimana semuanya serba mahal seperti ini, yang hatinya susah-kan orang-orang di kota itu. Kalau orang desa seperti kami ini tidak susah mas! Sebabnya orang-orang desa itu tidak punya keinginan yang macam-macam. Cukup melihat padi-nya di sawah sudah mulai menguning, hati kami sudah bahagia mas!)….


Kata-kata “sederhana” yang sesaat kemudian membuatku termenung. Kata-kata yang meluncur dari bibir seorang petani sederhana yang “nyambi” sebagai tukang pijat di sebuah dusun kecil. Lelaki tua berwajah oval yang warnanya telah legam karena terbakar matahari di ladangnya. Wajah yang disana tergurat jelas lekuk-lekuk keriput, yang menunjukkan betapa sang empunya telah kenyang akan asam garam kehidupan. Pak Songko, atau Sasongko demikian nama lengkap lelaki tua ini.

Sore itu, satu lagi pelajaran berharga yang aku dapat dari seseorang yang profesinya telah semakin dilupakan orang. Profesi yang barangkali hanya mau dijalani oleh orang-orang tua warga dusun kecil seperti pak Songko tadi, atau mereka yang memang sudah turun temurun bekerja sebagai petani. Sore itu, pak Songko benar-benar memberiku pelajaran yang sangat berharga tentang makna kebahagiaan dalam hidup ini, bahwa ternyata rasa syukur ini tidak hanya bisa diungkapkan oleh mereka yang mendapat nikmat berlimpah dari-Nya, tapi mereka yang mempunyai “kekayaan hati”-lah yang justru bisa memaknai arti syukur yang sebenarnya.

Bapak itu benar, bahwa sebenarnya bahagia itu ada disini, di dalam hati kita sendiri. Bahagia adalah sesuatu yang terpisah dengan kekayaan, keluarga, penghargaan jabatan dsb, meskipun kebanyakan orang akan merasa bahagia jika memiliki hal-hal tersebut. Tapi bukan hal-hal tersebut yang menjadi sumber kebahagiaan yang hakiki, kebahagiaan yang sebenarnya itu justru berasal dari hati ini. Hati yang bisa merasa cukup dengan apa yang diberikan Alloh, hati yang tidak diperbudak dengan banyaknya keinginan, hati yang pandai berprasangka baik atas “skenario” yang dijalankan Tuhan-Nya, serta hati mau mensyukuri nikmat yang masih disediakan Alloh untuk kita, bukan hanya meratapi nikmat yang telah hilang.

Berkaca dari “wong tani utun” seperti, pak Songko, menelisik ke dalam kehidupannya yang sangat sederhana, namun tampak begitu bersahaja di mataku. Ia yang berkata, “Pepinginane wong tani kados kula niku mboten macem-macem mas. Pokok ningali pari ten sabin pun ndingkluk ngaten, rasane pun bingah sangeet mas”, (Keinginan petani dusun seperti kami ini tidak neko-neko mas, asalkan padi kami di sawah sudah mulai menguning dan siap untuk dipanen, kami sudah sangat bahagia)”, sungguh membuatku menjadi sangaaat malu. Petani dusun Tok Laos yang harus berjuang sejak pagi buta, hingga sore di bawah teriknya matahari, yang kadang masih harus terjaga di gelapnya malam saat menjaga giliran air sawahnya, yang juga masih bekerja “part time” sebagai tukang pijat agar kebutuhan keluarganya bisa tercukupi, namun ia tampak begitu bahagia dengan semua keadaan itu.

Aku dan mungkin kebanyakan dari kita (diakui atau tidak) selama ini sering terbalik dalam memaknai kebahagiaan dan rasa syukur tadi. Bahwa sesungguhnya dari rasa syukur-lah kebahagiaan itu akan timbul. Tapi selama ini biasanya rasa syukur atas nikmat Alloh baru aku ungkapkan, ketika aku mendapatkan kebahagiaan. Dan seringkali rasa syukur tadi lenyap seketika, bahkan berubah menjadi protes pada Alloh, saat Ia menimpakan sedikit saja cobaan padaku.

Teringat ucapan seorang motivator yang sering mengisi acara sebuah stasiun televisi swasta di ibukota, “Life is always not fair”. Hidup ini, akan selalu tidak adil! Saat pertama kali mendengar pernyataan itu, pikiranku seperti berontak. Bukankah Alloh itu maha adil, apa motivator ini sudah gila mau mengingkari sifat Tuhan, pikirku saat itu. Namun, setelah aku pikirkan, ternyata pernyataan itu memang benar. ketidak-adilan hidup ini, bukan hanya karena orang lain memiliki apa yang tidak kita punyai, tapi juga karena kita mempunyai apa yang orang lain tidak miliki. Alangkah membosankannya hidup, bila semua orang di dunia ini berada dalam keadaan yang sama. Sama kaya-nya, sama sukses-nya, sama tampan-nya, sama pintar-nya, dsb. Lantas siapa yang mau menjadi pembantu, pelayan, satpam, tukang ojek, sopir, atau petani seperti pak Songko tadi, bila semua orang sudah sama kaya, sama enak, sama sejahtera-nya?

Mari sejenak kita merenung, apakah hari ini kita sudah benar-benar menjadi hamba-Nya yang bersyukur??? “Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah (lagi) yang kamu dustakan?” ( Yang Maha Pemurah : 13 )

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.