Nyanyianrindu’s Weblog

12-Agustus- 2008

Jawaban “Mengapa Bukan Aku?” dan Mengapa-mengapa Lainnya…

Filed under: Uncategorized — nyanyianrindu @ 2:54 pm

Ketika NASA mencari Astronot, maka beribu-ribu orang melamarnya. Ada 43.000 lebih surat lamaran melayang ke kotak surat NASA untuk bisa ikut penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Namun hanya beberapa orang saja yang benar-benar lolos dan ikut terbang bersama Chalenger di tahun 1986 itu.

Beberapa orang gagal di awal, beberapa orang sempat berlatih di program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center . Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara mereka yang bisa melewati ujian akhir ini? Hanya beberapa orang yang “berhasil” dan akhirnya justru hancur menjadi debu.

Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, maka 43.000 orang yang “GAGAL” menjadi astronot sangat ngiri, bahkan tidak sedikit yang membanting benda untuk

meluapkan emosinya 43.000 orang itu berkata “MENGAPA BUKAN AKU?” Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaan mereka yang mengeluhkan kegagalannya. Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Masihkah mereka bertanya “MENGAPA BUKAN AKU?”

Sahabat sukses, pernahkah anda melihat orang yang sangat makmur dan menurut anda hidupnya terpilih sebagai orang yang enak? Maukah anda menjadi dia? Saya akan bertanya? Apakah anda mau benar-benar menjadi TUKUL? Apakah Anda mau benar-benar menjadi BRAD PITT? Apakah anda mau benar-benar menjadi Tamara Blezenky?

Renungkan baik-baik…………

Mungkin anda akan menemukan hal yang tidak nyaman pada mereka, atau anda menemukan hal yang lebih baik pada diri anda. Selain menjadi mereka itu tidak mungkin, maka lebih baik menjadi diri sendiri dengan selalu memperbaiki kualitas hidup Anda. Lebih SUKSES, lebih Bahagia dan lebih Bermakna…..

Bersemangatlah menjadi diri sendiri! http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/01.gif

8-Agustus- 2008

Renungan dan Canda Tentang Usia Seorang Manusia

Filed under: Uncategorized — nyanyianrindu @ 4:45 pm

Rahasia umur manusia Intermezo & renungan buat hari ini……… ..

Di awal zaman,
Tuhan menciptakan seekor sapi.
Tuhan berkata kepada sang sapi
Hari ini kuciptakan kau Sebagai sapi
engkau harus pergi ke padang rumput.
Kau harus bekerja dibawah terik
matahari sepanjang hari.
Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun.
Sang Sapi keberatan
Kehidupanku akan sangat berat selama
50 tahun. Kiranya 20 tahun cukuplah
buatku. Kukembalikan kepadamu yang
30 tahun . Maka setujulah Tuhan.

Di hari kedua, Tuhan menciptakan monyet.
Hai monyet, hiburlah manusia.Aku berikan kau umur 20 tahun!
Sang monyet menjawab “What? Menghibur
mereka dan membuat mereka tertawa?
10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10
tahun padamu” Maka setujulah Tuhan.

Di hari ketiga, Tuhan menciptakan anjing.
Apa yang harus kau lakukan adalah
menjaga pintu rumah majikanmu.
Setiap orang mendekat kau harus
menggongongnya. Untuk itu kuberikan
hidupmu selama 20 tahun Sang anjing
menolak : “Menjaga pintu sepanjang hari
selama 20 tahun ? No way…! Kukembalikan 10 tahun padamu”.Maka setujulah
Tuhan.

Di hari keempat, Tuhan menciptakan manusia.
Sabda Tuhan: “Tugasmu adalah makan,
tidur, dan bersenang-senang.
Inilah kehidupan. Kau akan menikmatinya. Akan kuberikan engkau umur
sepanjang 25 tahun! Sang manusia keberatan,katanya “Menikmati kehidupan
selama
25 tahun?Itu terlalu pendek Tuhan.

Let’s make a deal.
Karena sapi mengembalikan 30 tahun usianya,lalu anjing mengembalikan 10
tahun,
dan monyet mengembalikan 10 tahun usianya padamu,berikanlah semuanya
itu
padaku.

Semua itu akan menambah masa hidupku menjadi 75 tahun.
Setuju ?” Maka setujulah Tuhan.

AKIBATNYA… ……… ……… ………

Pada 25 tahun pertama kehidupansebagai manusia dijalankan kita
makan,tidur dan
bersenang-senang

30 tahun berikutnya menjalankan
kehidupan layaknya seekor sapi
kita harus bekerja keras sepanjang hari
untuk menopang keluarga kita

10 tahun kemudian kita menghibur dan
membuat cucu kita tertawa dengan
berperan sebagai monyet yang menghibur

Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal
dirumah, duduk didepan pintu, dan
menggonggong kepada orang yang lewat
Uhuk, uhuk (batuk)… Eh, Ntong,
mo kemane lo? #@*?* ….

wakakakakakakak …..

“Forward dari salah seorang sahabat…”

Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu…

Filed under: Uncategorized — nyanyianrindu @ 4:11 pm

“Rumahku surgaku” Sebuah ungkapan yang tiada terhingga nilainya & tidak dapat diukur dengan parameter apapun. Sebuah idealisme yang menjadi impian semua keluarga. Tapi untuk mewujudkannya pada sebuah rumah tangga (keluarga) ternyata tidaklah mudah. Tidak seperti yang dibayangkan ketika awal perkenalan atau sebelum pernikahan. Butuh proses, butuh kesabaran, butuh perjuangan, bahkan pengorbanan juga ilmu!
Saat ini, persoalan dalam keluarga membuat banyak pasangan suami istri dalam masyarakat kita menjadi gamang. Baik yang datang dari dalam maupun dari luar.

Wajar, karena itulah hakikat hidup. Bukan hidup namanya jika tanpa masalah. Justru masalah yang membuat manusia bisa merasakan kesejatian hidup, menjadikan hidup lebih berwarna dan tidak polos seperti kertas putih yang membosankan. Namun jangan sampai masalah-masalah itu mengendalikan diri kita hingga kita kehilangan hakikat hidup.

Lihatlah sepanjang tahun ini, begitu banyak pasangan yang mengajukan perceraian ke pengadilan agama dengan berbagai macam alasan. Memang yang lebih banyak terangkat adalah kisah rumah tangga para selebritis yang tak henti menghiasi layar kaca tentang rusaknya hubungan rumah tangga mereka. Tapi sesungguhnya itu hanya puncak sebuah gunung es. Karena masyarakat awam pun tak sedikit yang rumah tangganya bermasalah, bahkan mereka yang mendapat sebutan aktivis dakwah.
Begitu banyak buku-buku pernikahan yang beredar di pasaran, bahkan sebagian menjadi best seller. Tak hanya buku-buku non fiksi, bahkan para fiksionis pun lebih senang mengangkat tema-tema merah jambu karena lebih disukai pasar. Isinya kebanyakan bersifat provokatif kepada orang-orang yang belum menikah agar segera menikah. Namun sayangnya hampir semua buku-buku itu isinya terlalu melangit.
Maksudnya lebih banyak menceritakan pernikahan (kehidupan rumah tangga) pada satu sisi yang indah dan menyenangkan. Sementara sisi “gelap” pernikahan jarang sekali yang mengangkat. Tentang kehidupan setelah pernikahan, tentang biaya-biaya berumah tangga, dan hal-hal lain yang tentu tidak sepele dalam rumah tangga.
Isitrahatlah sejenak dari bermimpi tentang pernikahan. Jika mimpi itu hanya berisi bagaimana mengatasi rasa gugup saat akad nikah. Atau tumpukan kado dan amplop warna-warni menghiasi ‘bed of roses’. Atau kalau hanya mengharap salam indah dan atau jawaban salam dari kekasih. Apalagi membayangi bisa menatap, berbicara dan menghabiskan waktu bersama belahan hati tercinta.
Pernikahan tidak cuma sampai di situ, sobat. Ada banyak pekerjaan dan tugas yang menanti. Bukan sekedar merapihkan rumah kembali dari sampah-sampah pesta pernikahan, karena itu mungkin sudah dikerjakan oleh panitia. Bukan menata letak perabotan rumah tangga, bukan juga kembali ke kantor atau beraktifitas rutin karena masa cuti habis.
Tapi ada hal yang lebih penting, menyadari sepenuhnya hakikat dan makna pernikahan. Bahwa pernikahan bukan seperti ‘rumah kost’ atau ‘hotel’. Di mana penghuninya datang dan pergi tanpa jelas kapan kembali. Tapi lebih dari itu, pernikahan merupakan tempat dua jiwa yang menyelaraskan warna-warni dalam diri dua insan untuk menciptakan warna yang satu: warna keluarga.
Di tengah masyarakat yang kian sakit memaknai pernikahan, semoga kita tetap memiliki sudut pandang terbaik tentangnya. Betapa banyak orang yang menikah secara lahir, tapi tidak secara batin dan pikiran. Tidak sedikit yang terjebak mempersepsikan pernikahan sebatas cerita roman picisan dan aktifitas fisik. Hingga wajar jika banyak remaja yang belum menikah saat mendengar kata menikah adalah kesenangan dan kenikmatan. Hal itu ditunjang oleh buku-buku pernikahan yang isinya ngomporin. Sementara sesungguhnya yang harus dilakoni adalah tanggung jawab dan pengorbanan.
Memang pernikahan berarti memperoleh pendamping hidup, pelengkap sayap kita yang hanya sebelah…

Memang pernikahan berarti memperoleh pendamping hidup, pelengkap sayap kita yang hanya sebelah. Tempat untuk berbagi dan mencurahkan seluruh jiwa. Tapi jangan lupa bahwa siapapun pasangan hidup kita, ia adalah manusia biasa. Seseorang yang alur dan warna hidup sebelumnya berbeda dengan kita. Seberapa jauh sekalipun kita merasa mengenalnya, tetapakan banyak ‘kejutan’ yang tak pernah kita duga sebelumnya. Upaya adaptasi dan komunikasi bakal jadi ujian yang cuma bisa dihadapi dengan senjata kesabaran.
Pasangan kita, yang kita cintai adalah manusia biasa. Dan ciri khas makhluk bernama manusia adalah memiliki kekurangan dan kelemahan diri. Memahami diri sendiri sebagai manusia sama pentingnya dengan memahami orang lain sebagai manusia. Pemahaman ini penting untuk dijaga, karena cepat atau lambat kita akan menemukan kekurangan atau kebiasaan buruk pasangan kita.
Oleh karena itu, bagi yang belum menikah, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu dengan memilih pasangan hidup saja. Apalagi parameternya tak jauh dari penampilan, fisik, encernya otak, anak orang kaya, pekerjaan mapan, penghasilan besar, berkepribadian (mobil pribadi, rumah pribidi), berwibawa (wi…bawa mobil, wi…bawa handphone, wi…bawa laptop), dan sebagainya. Tapi, pernahkah kita berpikir untuk membantu seseorang yang ingin mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik hari demi hari bersama diri kita?
Lebih dari itu, pernikahan dalam konteks dakwah merupakan tangga selanjutnya dari perjalanan panjang dakwah membangun peradaban ideal dan tegaknya kalimat Allah. Namun tujuan mulia pernikahan akan menjadi sulit direalisasikan jika tidak memahami bahwa pernikahan dihuni oleh dua jiwa. Setiap jiwa punya warna tersendiri, dan pernikahan adalah penyelarasan warna-warna itu. Karenanya merupakan sebuah tugas untuk bersama-sama mengenali warna dan karakter pasangan kita. Belajar untuk memahami apa saja yang ada dalam dirinya. Menerima dan menikmati kelebihan yang dianugerahkan padanya. Pun membantu membuang karat-karat yang mengotori jiwa dan pikirannya.
Menikah berarti mengerjakan sebuah proyek besar dengan misi yang sangat agung: melahirkan generasi yang bakal meneruskan perjuangan. Pernahkan terpikir betapa tidak mudahnya misi itu? Berawal dari keribetan kehamilan, perjuangan hidup mati saat melahirkan, sampai kurang tidur menjaga si kecil? Ketika bertambah usia, kadang ia lucu menggemaskan tapi tak jarang membuat kesal. Dan seterusnya hingga ia beranjak dewasa, belajar berargumentasi atau mempertentangkan idealisme yang orangtuanya tanamkan. Sungguh, tantangan yang sulit dibayangkan jika belum mengalaminya sendiri…
Menikah berarti berubahnya status sebagai individu menjadi sosial(keluarga). Keluarga merupakan lingkungan awal membangun peradaban. Dan tentu sulit membangun peradaban jika kondisi ‘dalam negeri’ masih tidak beres. Maka butuh keterampilan untuk memanajemen rumah tangga, menjaga kesehatan rumah dan penghuninya, mengatur keuangan, memenuhi kebutuhan gizi, menata rumah, dan masih banyak lagi keterampilan yang mungkin tak pernah terpikirkan…
Ini bukan cerita tentang sisi “gelap” pernikahan (wong saya sendiri belum nikah, tapi do’akan saja tahun ini saya bisa segera menyempurnakan separuh dien saya). Tapi seperti briefing singkat yang menyemangati para petualang yang bakal memasuki hutan belantara yang masih perawan. Yang berhasil, bukan mereka yang hanya bermodal semangat. Tapi mereka yang punya bekal ilmu, siap mental dan tawakkal kepadaNYA. Karena pernikahan bukanlah sebuah keriaan sesaat, namun ia adalah nafas panjang dan kekuatan yang terhimpun untuk menapaki sebuah jalan panjang dengan segala tribulasinya.

Pernikahan adalah penyatuan dua jiwa yang kokoh untuk menghapuskan pemisahan. Kesatuan agung yang menggabungkan kesatuan-kesatuan yang terpisah dalam dua ruh. Ia adalah permulaan lagu kehidupan dan tindakan pertama dalam drama manusia ideal. Di sinilah permulaan vibrasi magis itu yang membawa para pencinta yang berasal dari dua dunia akhirnya menjadi satu dalam satu ikatan agung bernama PERNIKAHAN.
Jadi, bekalilah dirimu sebelum Anda mengambil keputusan besar itu.

Gundah…Saat Masa Itu Datang Menjelang

Filed under: Uncategorized — nyanyianrindu @ 3:30 pm

Teringat sebuah pesan bijak dari seorang sahabat, ” Kaulah arsitek hidupmu, kau boleh merencanakan segalanya… tapi lagi2 ALLAH-lah sang penentu pemenang tendernya.”…
“Kun fayakun..jadi, maka terjadilah”.
Siapa yang bisa melawan kehendaknya? Tak seorang makhluk-pun di atas bumi ciptaan-Nya ini yang bisa.

Tapi satu yang pasti, “DIA TAK PERNAH SALAH” kan? Apapun yg Ia berikan, pasti itulah yang terbaik bagi kita. Dan boleh jadi, apa yang ia berikan tidak sesuai dengan keinginan kita. Apa yang kita inginkan, belum tentu semuanya bisa kita dapat…
Kecewa? Pasti…

Tapi kekecewaan yang kita alami mesti hanya sementara, karena sebenarnya Ia telah menyiapkan sebuah “kejutan” kecil untuk kita, di balik kekecewaan itu. Boleh jadi, hari ini kita menganggapnya sebagai kekecewaan. Esok hari kita menganggapnya sebagai sebuah pembelajaran. Dan di masa depan kita malah menganggap kekecewaan kita dulu sebagai sebuah rahmat, karena dengan kegagalan yang pernah kita alami saat itu, kita bisa belajar dan sampai pada kesuk.
“Laa khaufun, walaa hum yakzanuun”.. Janganlah kamu takut,dan jangan pula kamu bersedih hati. Karena surga ALLAH telah menantimu kelak. Itu janji ALLAH bagi hamba-Nya yang lulus menghadapi ujian-Nya, dan menyikapinya dengan ikhlas.

Walahu’alam bisshawab.

“Ditulis oleh Wachid Kurniawan sesaat setelah badai menghempasnya”

Wanita Bagi Pemimpin Dunia…

Filed under: Living Learning — nyanyianrindu @ 3:08 pm

Wanita…

Bukan dari tulang ubun2 mereka dicipta, karena berbahaya menjadikannya disanjung dan dipuja. Bukan pula dari tulang kaki, karena nista menjadikannya terinjak dan terhina

Tapi dari rusuk kiri lelaki mereka dicipta, dekat ke tangan untuk dilindungi, dan dekat pula ke hati untuk dicintai”.

Wanita, apa yang membuat mereka begitu istimewa, sehingga ALLOH-pun meletakkan surga di kaki seorang wanita? Apa kelebihan dari sesosok makhluk yg diciptakan Alloh begitu penuh kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang, sehingga Rasulullah SAW menyatakan bahwa seindah-indah perhiasan dunia adalah wanita (istri yang shalihah). Apa luar biasa-nya kaum hawa ini, sehingga setiap tanggap 2 Desember diperingati sebagai “Hari Ibu”, sementara sepanjang sejarah tidak pernah ada “Hari Ayah atau Hari Bapak”?

Jika memang demikian istimewanya mereka, mengapa dalam Surat An-Nisa ayat 34 disebutkan Ar-Rijalu qawwamuna ‘ala an-Nisaa’, bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita? Lantas mengapa ketika ada seorang wanita bertanya kepada Rasulullah tentang hak-hak suami terhadap istrinya, Rasul menjawab, “Diantara hak suami atas istrinya adalah : Jika saja kaki suamimu terluka kemudian luka itu bernanah dan mengeluarkan bau busuk, kemudian engkau membasuhnya dengan wajahmu, maka engkau belum dianggap memenuhi semua hak suamimu. Dan kalau saja Allah membolehkanku untuk memerintahkan manusia sujud kepada manusia lain, sungguh aku perintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya”.

Semua pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelitik isi kepalaku. Rasa penasaran membuatku terus mencari-cari jawaban, namun sepertinya belum ada jawaban yang bisa memuaskan rasa penasaranku. Hingga akhirnya malam itu, kubaca sebuah tulisan pendek yang menghiasi sebuah notebook souvenir pernikahan salah satu sahabat terbaikku. Entah mengapa, begitu pendek memang, tapi kalimat pendek yang merupakan kutipan dari artikel ustadz Anis Matta ini seolah mampu memberangus semua pertanyaan yang berkutat di pikiranku. Dalam artikel tersebut, ustadz Anis Matta menyebutkan demikian :

“Di balik tangguh dan agungnya seorang pemimpin (lelaki-red), disana pasti ada wanita yang tangguh dan agung pula. Wanita itu bisa salah satu diantara dua, atau mungkin juga kedua-duanya. Dua wanita tersebut adalah sang Ibu dan Istri lelaki tadi”

Ternyata pikiranku terlalu “cetek”. Bahwa sebenarnya bukanlah sebuah ketidak-adilan bagi kaum adam, jika lantas ALLOH swt dan Rasulullah memberikan penghargaan yang begitu tinggi kepada seorang wanita, dengan menjadikan mereka sebagai sebaik-baik perhiasan dunia, dan meletakkan surga ada di bawah telapak kakinya..

Istri, seorang wanita yang selalu berusaha setia pada suaminya, Dia yang membuat suami merasa dihargai dan dicintai. Dengan tatap bangganya. Dengan ucapan terima kasih tulusnya saat menerima uang gaji sang suami yang tak seberapa. Dengan kesabarannya mengandung, melahirkan dan memegang komando pembinaan anak hasil buah cinta mereka berdua, yang senantiasa berusaha pulang kantor lebih awal dari suaminya. Yang memilihkan dan menyiapkan segala keperluan sang suami di tengah-tengah begitu banyak urusannya. Yang menemani menyiapkan bahan kuliah hingga larut malam, dan masih begitu banyak lagi pengorbanannya.

Ibu…tak usah kita sangsikan betapa berartinya ia bagi hidup kita. Di rahimnya-lah selama 9 bulan kita tinggal, sembari menanti Alloh memberikan gilirannya pada kita untuk melihat indahnya dunia. Ia yang rela menunda surga, demi bisa merawat, mendidik dan membesarkan kita dengan semua sentuhan lembut, kasih sayang, kata-kata syahdu, dan senyumannya. Ia, yang telah begitu banyak berjasa dan berkorban bagi kita, tapi mungkin tak pernah sesaatpun kita ucapkan “TERIMA KASIH” padanya,.. Oh ibu, aku mencintaimu…

Pantaslah kiranya Sayyid Quthub dalam kitab tafsirnya Fi Zhilail Al-Quran (Pustaka Al-Kautsar, 1996) mengatakan, “Laki-laki dan perempuan, keduanya adalah makhluk ciptaan Allah… tidak pernah diciptakan dengan maksud ditindas oleh makhluk ciptaan lainnya. Masing-masing telah diciptakan dengan hak dan kewajibannya masing-masing, satu memiliki kelebihan atas yang lain, dan begitu pula sebaliknya. Seorang wanita shalihah akan makin melengkapi hidup lelaki salih, dan seorang lelaki salih merupakan kebutuhan dari seorang wanita shalihah”. Subhanallah…betapa Alloh swt telah mengatur sedemikian indahnya kedudukan antara seorang lelaki dan wanita.

Wallahu’alam bisshawab…

“Ditulis oleh Wachid Kurniawan, utk ibundanya yang akan menjelang usia ke-44 nya…”

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.