Wanita…
Bukan dari tulang ubun2 mereka dicipta, karena berbahaya menjadikannya disanjung dan dipuja. Bukan pula dari tulang kaki, karena nista menjadikannya terinjak dan terhina
Tapi dari rusuk kiri lelaki mereka dicipta, dekat ke tangan untuk dilindungi, dan dekat pula ke hati untuk dicintai”.
Wanita, apa yang membuat mereka begitu istimewa, sehingga ALLOH-pun meletakkan surga di kaki seorang wanita? Apa kelebihan dari sesosok makhluk yg diciptakan Alloh begitu penuh kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang, sehingga Rasulullah SAW menyatakan bahwa seindah-indah perhiasan dunia adalah wanita (istri yang shalihah). Apa luar biasa-nya kaum hawa ini, sehingga setiap tanggap 2 Desember diperingati sebagai “Hari Ibu”, sementara sepanjang sejarah tidak pernah ada “Hari Ayah atau Hari Bapak”?
Jika memang demikian istimewanya mereka, mengapa dalam Surat An-Nisa ayat 34 disebutkan Ar-Rijalu qawwamuna ‘ala an-Nisaa’, bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita? Lantas mengapa ketika ada seorang wanita bertanya kepada Rasulullah tentang hak-hak suami terhadap istrinya, Rasul menjawab, “Diantara hak suami atas istrinya adalah : Jika saja kaki suamimu terluka kemudian luka itu bernanah dan mengeluarkan bau busuk, kemudian engkau membasuhnya dengan wajahmu, maka engkau belum dianggap memenuhi semua hak suamimu. Dan kalau saja Allah membolehkanku untuk memerintahkan manusia sujud kepada manusia lain, sungguh aku perintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya”.
Semua pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelitik isi kepalaku. Rasa penasaran membuatku terus mencari-cari jawaban, namun sepertinya belum ada jawaban yang bisa memuaskan rasa penasaranku. Hingga akhirnya malam itu, kubaca sebuah tulisan pendek yang menghiasi sebuah notebook souvenir pernikahan salah satu sahabat terbaikku. Entah mengapa, begitu pendek memang, tapi kalimat pendek yang merupakan kutipan dari artikel ustadz Anis Matta ini seolah mampu memberangus semua pertanyaan yang berkutat di pikiranku. Dalam artikel tersebut, ustadz Anis Matta menyebutkan demikian :
“Di balik tangguh dan agungnya seorang pemimpin (lelaki-red), disana pasti ada wanita yang tangguh dan agung pula. Wanita itu bisa salah satu diantara dua, atau mungkin juga kedua-duanya. Dua wanita tersebut adalah sang Ibu dan Istri lelaki tadi”
Ternyata pikiranku terlalu “cetek”. Bahwa sebenarnya bukanlah sebuah ketidak-adilan bagi kaum adam, jika lantas ALLOH swt dan Rasulullah memberikan penghargaan yang begitu tinggi kepada seorang wanita, dengan menjadikan mereka sebagai sebaik-baik perhiasan dunia, dan meletakkan surga ada di bawah telapak kakinya..
Istri, seorang wanita yang selalu berusaha setia pada suaminya, Dia yang membuat suami merasa dihargai dan dicintai. Dengan tatap bangganya. Dengan ucapan terima kasih tulusnya saat menerima uang gaji sang suami yang tak seberapa. Dengan kesabarannya mengandung, melahirkan dan memegang komando pembinaan anak hasil buah cinta mereka berdua, yang senantiasa berusaha pulang kantor lebih awal dari suaminya. Yang memilihkan dan menyiapkan segala keperluan sang suami di tengah-tengah begitu banyak urusannya. Yang menemani menyiapkan bahan kuliah hingga larut malam, dan masih begitu banyak lagi pengorbanannya.
Ibu…tak usah kita sangsikan betapa berartinya ia bagi hidup kita. Di rahimnya-lah selama 9 bulan kita tinggal, sembari menanti Alloh memberikan gilirannya pada kita untuk melihat indahnya dunia. Ia yang rela menunda surga, demi bisa merawat, mendidik dan membesarkan kita dengan semua sentuhan lembut, kasih sayang, kata-kata syahdu, dan senyumannya. Ia, yang telah begitu banyak berjasa dan berkorban bagi kita, tapi mungkin tak pernah sesaatpun kita ucapkan “TERIMA KASIH” padanya,.. Oh ibu, aku mencintaimu…
Pantaslah kiranya Sayyid Quthub dalam kitab tafsirnya Fi Zhilail Al-Quran (Pustaka Al-Kautsar, 1996) mengatakan, “Laki-laki dan perempuan, keduanya adalah makhluk ciptaan Allah… tidak pernah diciptakan dengan maksud ditindas oleh makhluk ciptaan lainnya. Masing-masing telah diciptakan dengan hak dan kewajibannya masing-masing, satu memiliki kelebihan atas yang lain, dan begitu pula sebaliknya. Seorang wanita shalihah akan makin melengkapi hidup lelaki salih, dan seorang lelaki salih merupakan kebutuhan dari seorang wanita shalihah”. Subhanallah…betapa Alloh swt telah mengatur sedemikian indahnya kedudukan antara seorang lelaki dan wanita.
Wallahu’alam bisshawab…
“Ditulis oleh Wachid Kurniawan, utk ibundanya yang akan menjelang usia ke-44 nya…”